I'm currently reading Raditya Dika's book "Manusia Setengah Salmon", and I find that this book is great (although I haven't finished reading all the chapters). Ada satu chapter yang menurut aku cukup ngena, ngena banget malahan, yaitu di bagian "Sepotong Hati dalam Kardus Coklat". Chapter ini isinya tentang putus cinta dan pindah rumah. Ada bagian dari chapter ini yang aku highlight, yaitu :
"Mungkin itu masalahnya, pikir gue. Seperti rumah ini yang terlalu sempit buat keluarga kami, gue juga menjadi terlalu sempit buat dia. Dan, ketika sesuatu sudah mulai sempit dan tidak nyaman, saat itulah seseorang harus pindah ke tempat yang lebih luas dan (dirasa) cocok untuk dirinya. Rumah ini tidak salah, gue dan dia juga tidak salah. Yang kurang tepat itu bila dua hal yang dirasa sudah tidak lagi saling menyamankan tetap dipertahankan untuk bersama. Mirip seperti gue dan dia. Dan dia, memutuskan untuk pindah."
Udah jadi rahasia umum juga sih kalo beberapa bulan yang lalu aku putus, dan membaca tulisan Raditya Dika ini bikin aku manggut-manggut sendiri. Siapa sih manusia yang tau masa depannya? Engga ada. Mungkin dulu, dalam pikiran aku, semuanya baik-baik aja. Mungkin aku ketika itu kurang peka dan engga ngerasain bahwa dia udah ngerasa sempit dan gak nyaman dengan hubungan ini. Well, seperti yang kata Raditya Dika bilang sih, ga ada yang salah. Pada awalnya mungkin ini terasa sangat berat untuk aku, dan untuk semua orang yang pernah ngerasain sakitnya diputusin. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku tau engga ada yang salah. Ini bagian dari rencana besar yang udah Allah siapkan untuk kehidupan kita, entah itu kita berdua, atau kita masing-masing.
Selain bagian yang tadi, ada bagian lainnya juga yang aku highlight dari chapter ini, yaitu :
"Putus cinta sejatinya adalah sebuah kepindahan. Bagaimana kita pindah dari satu hati, ke hati yang lain. Kadang kita rela untuk pindah, kadang kita dipaksa untuk pindah oleh orang yang kita sayang, kadangbahkan kita yang memaksa orang tersebut untuk pindah. Ujung-ujungnya sama: kita harus bisa maju, meninggalkan apa yang sudah menjadi ruang kosong."
Yak. Walaupun pada awalnya terasa sangat berat, sangat sedih, sangat kecewa, sangat marah, sangat sakit, dan sangat sangat yang negatif lainnya, pelan-pelan aku juga mulai sadar kalau aku memang engga boleh kaya gini terus. Life goes on, ga mungkin juga aku menghabiskan waktu terus-terusan dengan segala macem perasaan yang sangat-sangat mengganggu itu. Selain itu, seperti yang udah berulang kali aku bilang, aku sangat ga mau merepotkan orang2 disekitar aku, dengan terus-terusan sedih dan menceritakan hal-hal sedih ke mereka. Pada suatu waktu beberapa hari yang lalu, aku ngerasa kalo semua perasaan negatif yang bikin aku sangat engga produktif ini harus segera diakhiri.
Ternyata butuh waktu yang lumayan juga untuk merasa "enough" dengan kesedihan ini. Kalo diitung-itung, ada sekitar 2,5 bulan, and well.. orang-orang di sekitar aku lah yang bisa bikin aku bangkit dari keterpurukan beberapa waktu lalu ini. Just like a famous Swedish proverb :
"Shared a joy is a double joy, shared sorrow is half a sorrow"
And I'm blessed because I'm surrounded by so many people who lift me up when I'm down :) Dari mulai keluarga, sahabat-sahabat sejak SD, SMP, dan SMA, sahabat-sahabat semasa kuliah, dan bahkan temen yang udah lama engga ketemu, dan mereka semua ada, mau mendengar, mau men-support aku, dan sangat menghibur dan menghilangkan sedih aku perlahan-lahan dengan cara mereka sendiri. Dari mulai nginep di rumah, dengerin cerita aku berjam-jam, nangis bareng-bareng, ngajak main kesana kemari, bbman dengan bahasan yang itu-itu aja, yman sampe subuh, sampai ketemuan dengan seseorang yang udah hampir setaun ga ketemu, dan ketika ketemu, aku malah cerita panjang lebar tentang permasalahan yang lagi aku hadapi. Agak kurang ajar emang ya.. :D But anyway, thanks to you all, I'm trully blessed for having you, and yes, since you're all the witness of my sadness, then I promise you, that someday you all must be the witness of my happiness :)
And here I am, walaupun belum bangkit seutuhnya, tapi believe me, aku mau. I decide to be happy, I choose to be happy. Dan mengutip dari kata-kata yang sangat aku inget dari seorang teman setelah aku curhat panjang lebar sama dia, and he said that "..suatu hari kamu harus move up ya. Karena move on aja itu engga cukup" :) then, bismillah.. sekarang aku menjawab pernyataan dia dengan satu kalimat singkat :
YES I WILL.
"When you wanna give up, and your hearts about to break,
Remember that you're perfect, God makes no mistakes"
Bon Jovi - Welcome to Wherever You Are
"When you wanna give up, and your hearts about to break,
Remember that you're perfect, God makes no mistakes"
Bon Jovi - Welcome to Wherever You Are


1 comments:
Good Good Fida!
Semoga kamu cepat mendapat "rumah" baru yaa :)
Post a Comment